Judul Novel: Republik Rakyat Lucu
Penulis : Eko Triono
Penerbit : Shira Media
Isi : 168 Halaman
"Saya tidak pernah KKN, tidak punya isteri simpanan, tidak punya perusahaan gelap, tidak pernah memalsukan laporan keuangan. Saya tipe orang jujur"
"Luar biasa murni. Artinya anda tidak lolos seleksi. Karena kami membutuhkan kader partai yang berpengalaman"
Novel ini memuat cerpen-cerpen
dengan kisah yang bisa dikatakan menggelitik namun juga syarat akan kritik,
racikan-racikan humor yang disuguhkan menghasilkan nuansa kisah yang nyentrik. Kritikan
yang berkoar-koar, namun nampak samar. Tersembunyi di setiap kisah-kisah yang
ada, namun tetap mempertahankan sisi kehumoran yang nyeleneh. Tapi tetap asyik.
Terkumpul dalam kisah kehidupan Republik Rakyat Lucu. Cerita-cerita di dalamnya
pun beragam, cerita yang cukup panjang sampai delapan halaman, ada juga yang
hanya satu halaman. Yang tidak terlupakan di setiap ceritanya,
sentilan-sentilan guyonan yang cukup
mengundang cekikikan dan tawa. Juga
sembari berpikir tentang kritik-kritik yang tersirat didalamnya.
Cerita-cerita di dalam buku ini
terbagi atas tiga bagian. Yang pertama adalah masa belajar dan jatuh cinta. Bagian
kedua menitik karier, sengsara, kadang ketawa. Dan yang terakhir adalah karir
politik dan ke mana angin menggiring nafsu batin. Dilihat dari judul buku ini saja,
telah menyuguhkan dan membuat hati penasaran untuk membacanya, se-lucu apakah
Republik Rakyat Lucu ini?. Ditambah dengan covernya yang cukup menarik. Dengan
ketebalan buku 168 halaman, buku ini kiranya tidak terlalu berat untuk dibaca.
Namun, sejatinya cerita-cerita yang
ada di dalamnya tetap mengusung satu tokoh utama yaitu Gembus, yang selalu ada
di setiap perjalanan, di setiap cerita yang ada. Bagian pertama masa belajar
dan jatuh cinta. Diceritakan Gembus adalah anak yang masih duduk di tingkat
Sekolah Dasar, pada suatu hari Gembus terlambat ke sekolah. Sang guru tak mau
menerima alasan apapun, yang terlambat mesti dihukum katanya. Peraturan ada
agar kedisiplinan dan keadilan tercipta, kata guru. Akhirnya Gembus dihukum di
tengah lapangan. Ia berdiri menghadap ke timur, menghormat ke arah bendera pusaka.
Matahari sedang terbit dengan cemerlangnya. Sang guru tiba-tiba melongok dari
dalam kelas memastikan bahwa Gembus tidak kabur. Bel istirahat berbunyi Gembus
ikut istirahat, bel masuk berbunyi Gembus kembali lagi menjalani hukumannya.
Sampai dentang bel pulang, Gembus ikut pulang dengan wajah menunduk malu.
Mungkin hal ini biasa saja, dimana lucunya? Lucunya adalah ketika hari-hari
selanjutnya.
Pada
suatu hari Guru sekolalah yang terlambat. Para murid tidak mau menerima
alasan apapun. Yang terlambat mesti kena hukuman. Peraturan ada agar
kedisiplinan dan keadilan tercipta, kata murid-murid. Akhirnya Guru sekolah
dihukum di tengah lapangan. Ia berdiri menghadap ke timur, menghormat ke arah
bendera pusaka. Matahari sedang terbit dengan cemerlangnya. Para murid yang
belajar mandiri tiba-tiba melongok dari dalam kelas memastikan bahwa si Guru
tidak kabur. Bel istirahat berbunyi Guru sekolah ikut istirahat, bel masuk berbunyi
sang Guru kembali lagi menjalani hukumannya. Sampai dentang bel pulang, semua
murid berhambur keluar kelas. Guru sekolah ikut pulang dengan wajah menunduk
malu.
Namun, pada hari-hari panjang
selanjutnya. Kepala Sekolah terlambat, Kepala Dinas terlambat, Menteri Pendidikan
terlambat, anggota dewan terlambat, karyawan datang terlambat, Presiden
terlambat, semua pejabat terlambat. Penduduk Republik Rakyat Lucu bisa melihat
semua pejabat-pejabat yang ada dihukum di tengah lapangan, disuruh hormat pada
bendera pusaka.
Itu hanya sekali, peraturan sepakat
untuk diubah. Bahwa untuk selanjutnya, hukuman bagi yang terlambat hanya
berlaku bagi siswa dan karyawan saja. Karena apabila para pejabat-pejabat ikut
dihukum, akan mencoreng nama bangsa, nama baik Republik, katanya. Cukup mengundang
cekikikan. Cerpen ini berjudul
Hukuman.
Pada bagian kedua, tidak dikisahkan
bagaimana kisah Gembus semasa menjadi pelajar tingkat lanjut. Pada bab ini
Gembus mulai menata kariernya, masuk kuliah jurusan keguruan untuk mewujudkan
cita-citanya menjadi Menteri. Gembus telah menjadi Guru honorer setelah lulus,
juga sampingan sebagai driver ojek online, sampai ketika dia merasa
kesejahteraannya kurang. Gembus ikut-ikutan bergabung dengan Komunitas Togel
Sida Makmur. Lah? Ya begitu kenyataannya.
Gagal dalam dunia taruhan nomor dan
ramal meramal mimpi. Gembus beralih kerja lain. Siang jadi Guru honorer, dan nyambi jadi penjaga toko mainan
anak-anak. Namun, alih-alih waktu Gembus keluar dari profesi guru honorer, kini
Gembus kerja di agen wisata milik bos toko mainan. Tetapi tetap saja tidak bisa
memenuhi kehidupan. Tak selang berapa lama, Gembus justru mencoba keberuntungan
di bisnis motivasi. Republik Rakyat Lucu sangat menggemari motivasi. Terutama
motivasi cepat kaya. Setelah mengikuti paket pelatihan, Gembus pun menjadi
motivator pendamping.
Motivator ternyata juga bukan jalan
yang tepat baginya. Kini selain sebagai pemandu wisata, Gembus nyambi sebagai kader partai. Inilah awal
titik balik kariernya. Dan rupanya Gembus suskses dalam dunia per-partaian.
Suatu cerita, ketika Gembus masih bekerja di agen wisata, Gembus mendapat tugas
untuk mengantar rombongan Jepang untuk mengunjungi sebuah candi. Di perempatan,
mobil berhenti karena lampu merah. Tak lama kemudian, melihat jalur seberang
sudah berhenti, meski lampu di jalur Gembus masih merah, tetapi orang-orang
sudah menyalakan klaksonnya dengan bising pertempuran yang mengancam. Tak
sabar, dua motor menerobos, disusul sebuah mobil.
Penasaran, salah seorang turis Jepang
bertanya dalam bahasa Inggris kepada Gembus. Yang artinya, “Mengapa mereka
menyalakan klakson ramai-ramai padahal lampu masih merah?” mendengar pertanyaan
dari bangsa asing, Gembus terangkat rasa nasionalismenya sebagai warga negara
Republik Rakyat Lucu, sehingga dia menjawab sepenuh harga diri, “Itulah cara
bangsa kami bekerja sama dalam kehidupan yang berat ini. Ketika kami berkendara
ramai-ramai, meski tidak pakai helm atau tidak membawa surat-surat, atau bahkan
bawa bendera, pedang, bolongin kenalpot, polisi tidak akan berani menindak. Itu
karena kami kompak. Mereka takut. Begitu juga lampu rambu lalu lintasnya. Kalau
kami kompak teriaki bersama dengan klakson, maka lampu lalu lintas itu
ketakutan dan akan segera berubah; dari merah, menjadi hijau, cling! Lihat tadi
kan? Memang hebat bangsa kami ini, kata Gembus. Cerita dalam cerpen Mengagumi
Jiwa Keroyokan Kami. Sebuah cerita yang penuh akan sindiran, dikemas dengan
keadaan yang sederhana namun ngena, untuk
para pembacanya. Kritikan yang samar-samar seperti tak nampak, namun nyata
adanya.
Pada bagian terakhir yaitu ketiga,
Gembus mulai sibuk dengan aktifitas kepartaiannya. Karier Gembus di dunia politik
semakin menanjak dengan keikutsertaan dalam seleksi kader terbaik dari Partai
Aduhai. Terdapat cerita yang begitu menggelitik ketika Gembus terpilih menjadi
anggota legislatif dari Partai Aduhai mewakili daerah pemilihan Kabupaten
Cengar dan Kabupaten Cengir. Komisi yang bergengsi tentunya memerlukan seleksi.
Seleksi pun dilakukan.
Tiba giliran Gembus diwawancarai
setelah sejumlah seleksi lain. “Saudara Gembus kader teladan,” tanya senior
Partai Aduhai. “Ya, saya,” jawab Gembus. “Saudara punya dedikasi tinggi?”
“Punya,” Gembus mantap. “Pernah korupsi?” “Tidak.” “Kolusi?” “Tidak.”
“Nepotisme?” “Tidak.” “Istri simpanan?” “Tidak.” “Perusahaan gelap?” “Tidak.”
“Memalsukan laporan keuangan?” “Tidak,” semakin mantap dan yakin Gembus dengan
kualitas dirinya. “Bagus,” jawab senior
Partai Aduhai, “bagus, bagus, luar biasa murni, dan itu artinya; Anda tidak
bisa lolos seleksi di komisi penting ini.” “?” “Tidak perlu bertanya, sebab
komisi penting ini membutuhkan kader partai yang telah berpengalaman, sehingga
mampu bekerja sama dengan baik.” Cerita dari Syaratnya Gampang.
Amatlah terlihat lawakan-lawakannya,
namun juga dengan kritik yang terus mengalir. Merenungkan segala dengan
cerita-cerita yang ada. Bukan hanya diambil kelucuannya. Melainkan juga
pelajaran dibaliknya. Agar tidak semakin lucu Republik Rakyat Lucu ini.
Dibiarkan dengan segala kelucuannya, dan kekonyolannya.
Oleh : Mohammad Jumhari
Oleh : Mohammad Jumhari
Tags
Resensi