"Membuang sampah plastik sembarangan seperti menumpuk dosa bagi bumi yang tak akan bisa terurai oleh doa-doa yang tiap malam dipanjatkan,"
Sampah! Aku lihat dimana-mana ada sampah. Apakah di
Istana Presiden juga ada sampah? Sungguh hebat sampah, sudah menjadi bunga nusantara.
Memang sudah tidak asing lagi bagi kita jika mendengar kata sampah. Berdasarkan hasil penelitian Jenna
Jambeck (2015), Indonesia
sendiri masuk dalam peringkat kedua di dunia sebagai penyumbang terbesar kedua sampah plastik di laut setelah Tiongkok. Benar-benar prestasi yang luar biasa mirisnya.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008
tentang pengelolaan sampah, yang dimaksud dengan sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam
yang berbentuk padat.
Disebutkan juga ada 3 jenis sampah yang harus dikelola yaitu sampah rumah tangga (domestik),
sampah sejenis rumah tangga (berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya), dan sampah spesifik.
Sayangnya produksi sampah rumah tangga dan sejeninya seperti tidak akan pernah ada habisnya. Bagaimana tidak, dari tahun ketahun volume sampah terus beranak pinak. Dimana-mana ada sampah.
Namun,
kini yang
menjadi persoalan cukup serius adalah dampak negatifnya, yaitu dapat menyebabkan pencemaran tanah, air, dan lingkungan. Kemudian jika sampah jenis plastik tersebut dibakar maka akan menimbulkan senyawa dioksin yang berbahaya bila terhirup manusia, serta juga dapat memicu penyakit seperti disentri, terinfeksi saluran pencernaan, kanker, tifus,
dan sebagainya.
Sayangnya,
di negeri berflower ini perihal urusan sampah memang jarang dibicarakan, sedang masalah politik terus digencarkan. Tak heran, jika budaya membuang sampah sembarangan terus dilakukan. Lalu jika sudah begini siapa yang seharusnya disalahkan? Pemerintah?
Masyarakat? Tak ada
yang peduli, tak ada
yang bisa disalahkan.
Biarpun sudah banyak pamflet terpampang nyata yang berbunyi
“Buanglah sampah pada tempatnya. Jangan buang sampah sembarangan.” Kiranya tulisan itu hanya sebagai pemanis saja, seolah-olah masyarakat bersikap masa bodoh melihatnya.
Disisi
lain pemerintah menargetkan pada tahun 2025 populasi sampah akan terkurangi 30 persen dan tertangani 70 persen. Bahkan dengan adanya upaya penyusunan Rancangan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Kehutanan tentang peta jalan pengurangan sampah, tentang pengurangan sampah kantong plastik, serta tentang gerakan masyarakat dalam pengelolaan sampah. Diharapkan dapat mempermudah penanganan pengelolaan jumlah sampah, dilansir dari Kompas.com.
Namun,
upaya tersebut nampaknya juga belum terlihat secara jelas. Bisa jadi karena bangsa ini terlalu sok sibuk dengan panggung politik yang sedang mekar-mekarnya. Jika boleh memilih kan lebih baik mengelola sampah menjadi barang bernilai ekonomi, dari pada adu bacot suara yang tak jelas alurnya. Asem memang.
Dulu juga sempat heboh tentang pengaturan kantong plastik berbayar. Tapi nyatanya aturan ini menuai kontroversi dari berbagai pihak. Hingga untuk pembatasan kantong plastik di supermarket,
minimarket, dan gerai lainnya masih sangat minim
penerapannya.
Coba saja bayangkan jika penggunaan kantong plastik masih banyak diasumsikan, jenis sampah plastik ini dapat terurai sekitar 200 hingga
1.000 tahun.
Bisa saja sampah tersebut akan tetap ada hingga generasi anak cucu kita. Mati pun kita masih meninggalkan sampah, Hmm sungguh mengenaskan, untung saja tidak dosa.
Kerap
kali pemerintah juga sudah berusaha dalam menanggulangi permasalahan sampah ini. Bagaimana tidak, kebijakan-kebijakan
yang dibuat saja terlihat cukup banyak. Berbagai resep pun sudah diciptakan, akan tetapi jumlah sampah terus terakumulasi dan lagi-lagi usaha itu tampaknya kurang membuahkan hasil. Oleh karenanya, kejelasan nasib sampah sampai detik ini masih samar-samar.
Melihat jumlah sampah yang kian menggunung, ingin sekali rasanya kuledakkan sekumpulan sampah itu, agar masyarakatnya cepat sadar diri.
Akhir-akhir ini juga sempat heboh mengenai tas plastik ramah lingkungan yang bisa larut dalam air. Dimana tas plastik tersebut diproduksi di
Indonesia, yang pada situs resmi avanieco.com menyebutkan bahwa bahan yang digunakan dalam membuat tas plastik larut itu adalah pati singkong, minyak sayur, dan bahan-bahan lainnya.
Sebuah inovasi yang luar biasa bukan? Tetapi, anehnya netizen negeri ini selalu berkutat dengan berbagai macam leluconnya. Sungguh ironis.
Sempat pula terlintas dipikiranku, apakah begini bentuk perwujudan wajah negeri ini? Entahlah,
kelak kita sendiri juga akan tahu jawabannya. Tapi kapan? Apa saat negeri sampah menyerang? Maybe
sih. Hingga aku juga sempat berandai-andai kiranya sampah-sampah itu bisa bicara mungkin ia akan bertanya kepadaku begini “Apakah dimulut manusia ada sampah? Jika tak ada syukurlah.”
Oleh: Lailiyatus Shofiyah