Apakah Golput Bikin Ribut?



“Hanya di akhirat sana mulut dapat terkunci rapat, janji manis yang sempat terlontar dengan indahnya hanya akan menjadi pemicu, karena rakyat butuhnya bukti bukan janji”

Pemilih pemula adalah para milenial, tidak lain tidak bukan milenial adalah anak asuhan media sosial yang sangat cepat sekali terjangkit virus informasi baru. Sangat melek teknologi pula, sampai- sampai pendahulunya kalah dengan telaknya.

Sangat rentan memang akan tingkat kematangan emosional, walaupun mereka sudah boleh menikah menurut hukumnya. Mereka belum stabil dan belum bisa berfikir seimbang dalam memaknai perbandingan informasi dan berita yang diterima.

Tidak ingatkah pada aksi 1998, para milenial zaman itu adalah sang pejuang pemilu lansung. Sesudahnya orde baru, muncul reformasi dan demokrasi, demokrasi adalah perwujudan memilih pimpinan secara langsung dan pilihan tersebut sesuai keinginan rakyat. Namun diera modern ini muncul berbagai macam problemtika setelah aksi ’98 yaitu terjadi banyak kaum golputers bermunculan, malah meningkat setiap periodenya.

Bukannya pemuda adalah agent of change? Kok malah golput. Kenyataanya banyak faktor pendukung, misal tidak terdaftar, tidak mengenal paslon, tidak mau mengenal politik atau lebih memilih bekerja dari pada ke TPS. Pilihan golput memang tidak salah jika mengingat faktor itu.

Karena milenial adalah anak asuhan media sosial, inilah tempat yang biasanya digunakan untuk media sosialisasi mengenai pemilu. Merupakan tantangan yang sulit adalah bagaimana mendidik pemilih pemula ini. Bagaimana tidak, ada golongan milenial yang apatis terhadap politik, seolah- olah menutup mata dan pikirannya, ada yang cepat menerima informasi, namun itu hoax. Bukannya bisa menambah wawasan atau pertimbangan malah menyesatkan yang lain. Disinilah peran pemerintah seperti KPU maupun BAWASLU dalam menemukan cara yang inovatif untuk  mendidik para generasi milenial.

Begitu derasnya arus perputaran informasi hoax dizaman serba ada ini, hoax ini seakan akan menjadi bumbu dalam masakan pemilu raya. Kecepatan kekuatan jari adalah salah satu sumbernya. Jika mereka mempercayainya maka akan dibagikanlah informasi itu, walupun hoax.

Sikap golput adalah salah satu warna yang mewarnai pelangi demokrasi, perbandingan yang golput, tidak tau, tidak mau tahu, atau bahkan tahu tapi tidak mau memilih, sudah seperti mejikuhibiniunya pelangi bukan? banyak warna namun memiliki satu makna, terserah siapapun yang akan terpilih, toh, akan tetap seperti ini- ini juga negara. Memangnya negara akan pindah?

Fakta yang terjadi dimasyarakat adalah angka golput terbanyak dipegang oleh generasi milenial. Banyak alasan yang mereka utarakan cukup beragam mulai sejak terkuaknya korupsi, banyak caleg yang awalnya janji manis ternyata janji palsu setelah terpilih, serta banyak skandal para pejabat. Maka tingkat kepercayaanpun langsung surut dan merosot, sehingga pilihannya hanya golput atau pasrah akan pilihan orang.

Kelunturan kepercayaan dari masyarakat karena merasa dibohongi oleh janji- janji manis yang ternyata asem, setelah terpilih mereka melupakannya alias habis manis sepah dibuang.

Wajar saja jika banyak parpol yang berlomba- lomba dalam menghabiskan dananya hanya untuk modal politik demi merebut hati rakyat untuk menepati janji palsunya. Pemilu ditahun 2019, sudah banyak baliho, spanduk, benner ataupu papan reklame yang dipasang dari tahun 2018, disudut kota hingga desa, sampai- sampai dipaku di pohon rindang, anggapan mungkin yang beteduhlah yang akan membacanya atau burung yang hinggap di dahan yang membacanya? Sehingga burung itulah penyebar kabar.

Golput memang sering bikin ribut. Yang golput dikatakan terlalu banyak mengkritik tapi tidak mau datang ke TPS, dikatakan apatis, kontra politik, bahkan dianggap tak peduli dengan nasib bangsa. Golput adalah hak setiap orang, katanya. Karena itu bukannya dilarang atau juga bukan tindak pidana. Sudah golput, mengajak orang lain dengan diimingi uang atau barang lagi itu baru namanya tindak pidana.

 Banyak anggapan golput itu merugikan. Golput terkesan apatis, merugikan paslon, hingga hak suara yang mubazir. Banyak yang bersuara, jika semua paslon buruk, pilihlah satu yang tidak terlalu buruk dari semua yang buruk. Untuk mencegah yang terburuk berkuasa. Akan tetapi, bagaimanapun juga selalu ada orang- orang baik diatara “mereka-mereka” itu, yang memang rela bekeja dan berfikir untuk membangun bangsa.

Pemilu raya ini banyak ditambahi dengan nama-nama baru, bukannya dari yang berpengalaman malah dari kalangan artis yang mendadak jadi caleg. Katanya, mereka itu sudah terkenal, lebih mudah diterima karena mudah untuk mengingatnya, apalagi sudah calegnya artis masih muda pula usianya. Anggapan yang samapun ada, mereka dipercaya tidak akan korupsi jika dilihat dari latar belakang yang sudah berkecukupan materi.

Namun apakah itu semua bisa menjamin? Jawabannya akan terjawab jika mereka sudah duduk anteng pada kursi pilihannya. 

Sebenarnya keingian tidak peduli memang ada didiri setiap orang, keinginan benci dan marah ada ketika mereka adu argumen, berebut kekuasaan, perang fitnah, nyinyir, atau kurang amanah. Melihat potret diri mereka yang cantik dan ganteng diberbagai balio menimbulkan pertanyaan.
“Siapa sih? Emang kalian siapa sih?”
“Yah, nyampah deh di pohon”
“Ini milih caleg udah kayak lotre, takut kena zonk”

Apakah harus melek politik?

Karena buta yang terburuk adalah buta politik. Dia tidak melihat, mendengar, tidak berbicara dan tidak ikut berpartisipasi dihari raya demokrasi. Apakah yang tidak peduli itu tahu, bahwa harga kacang, ikan dan beras di pasar hingga biaya sewa tergantung pada keputusan pemenang politik nanti.

Ditambah hidup bukan hanya tentang senja, puisi dan cerita luka hati yang menyayat. Ada nasib bangsa yang perlu dipikirkan. Jika generasi X dan Y yang korupsi dan genersi milenial yang apatis. Dari mana harapan kita berada? Apakah negara ini tetap bernama IndONEsia, yang katanya satu?


Oleh: Erika Juliatin

Post a Comment

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Previous Post Next Post