Pintar Ngomong Tak Pandai Membaca



Baca dan membaca merupakan kegiatan mata, pikiran, mata menangkap huruf, kalimat, gambar dan lain yang ada dihadapannya atau terlihat, otak mengelolahnya dan selanjutnya berperoses sangat cepat, sehingga ada strip muncul dari dalam diri makna, pahami dan tahu. Baca merupakan langkah yang paling tepat untuk seseorang agar mendapat input baru termasuk ilmu pengetahuan.

Orang pintar orang yang selalu bergelut pada ilmu, pengetahuan adalah senjatanya, orang pintar memiliki pengetahuan yang sangat luas. Orang seperti ini jika ditanya hanya bisa mejawab hal –hal yang dipelajarinya tanpa harus menghafalkannya.

Beda halnya dengan yang mengetahui, pandai dan memiliki ilmu. Orang pintar juga dikenal akan disiplin dan teratur, sehingga ia mengerjakan hal yang diperintah dan orang pintar butuh proses serta tahapan untuk mempelajari suatu hal terlebih dahulu dengan jangka waktu tertentu sampai akhirnya ia mengetahui sepenuhnya akan hal yang sedang dipelajarinya. Jadi orang  pintar selalu mengungkapkan sesuatu pendapat sesuai dengan pengetahuannya, tidak semata-mata Tong Kosong Nyaring Bunyinya.

Sedangkan jika pintar identik dengan suatu pendapat yang di kuatkan oleh pengetahuan, serta ia juga mempelajari suatu hal terlebih dahulu dengan jangka tertentu sampai ia benar-benar mengetahuinya dan beda dengan omongan, yang memiliki makna sendiri yakni sebuah homonim karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalal yang sama tetapi maknanya berbeda.

Bagaimana dengan prakteknya yang ada di Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura, apakah  banyak orang yang mengungkapkan ide atau gagasan sesuai dengan apa yang di ketahui serta dengan pengetahuan dan bukti yang kuat? Apakah semua mahasiswa berbicara dengan logika? Apakah mahasiswa sudah berbicara dengan pengetahuan dan bukti yang nyata?

Nyatanya banyak mahasiswa tidak mengerti dengan omongannya sendiri, tidak paham dengan apa yang ia katakan dan tidak mengerti makna arti dari sebuah kata perkata yang ia keluarkan dalam perdebatan, presentasi dan berdiskusi. Karena kebanyakan dari mereka hanya ingin terlihat pintar dan cerdas, bahkan ingin terlihat paling menonjol di antara teman sekelasnya, tetapi tidak semua mahasiswa juga seperti itu, hanya sebagian saja.

            Banyak mahasiswa yang pintar bicara tapi tak banyak yang pandai membaca, bicara sana-sini dengan segudang kosa kata yang banyak teman-teman tidak paham, dengan kata yang sangat tinggi tetapi,  nyatanya tidak memiliki makna atau arti hanya tong kosong saja. Jika membaca, banyak mahasiswa yang ogah-ogahan membaca dengan alasan bosan, capek dan tidak ada waktu, sedangkan jika membaca chat yang menumpuk ratusan hingga ribuan chat yang tidak penting, tetap dibaca dengan telaten dan sangat sabar dibaca satu persatu. Padahal membaca adalah segudang wawasan untuk membuka jendela dunia. Membaca buku garis besarnya, bukan membaca chat WhatsApp.


Oleh: Fitria Ningsih

Post a Comment

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Previous Post Next Post