Liburan semester adalah waktu yang sangat dinanti oleh banyak mahasiswa rantau karena momen berharga bagi mereka, momen dimana para mahasiswa rantau dapat pulang kampung dan berkumpul kembali bersama keluarganya. Biasanya momen ini berlangsung kurang lebih sekitar 2 bulan lamanya. Selama liburan semester, pola konsumsi mahasiswa pun mengalami perubahan. Banyak mahasiswa yang lebih memilih untuk menghabiskan waktu di kampung halaman mereka, sehingga kebutuhan mereka terhadap produk atau layanan yang tersedia di sekitar kampus menjadi sangat minim. Selain itu, beberapa mahasiswa juga lebih memilih untuk menghemat pengeluaran mereka selama liburan semester karena sebagian dari mereka harus mengelola biaya untuk kepulangan ke kampung halaman atau untuk kegiatan lainnya.
Pedagang yang menawarkan dagangannya di daerah kampus ini prospeknya sangat bagus karena daerahnya ramai, tapi bagaimanapun juga kita harus paham polanya jika perputaran ekonomi ada ditangan mahasiswa, hal ini disampaikan oleh salah satu pedagang di area Telang. Perubahan pola konsumsi ini berdampak pada penurunan permintaan terhadap barang-barang yang biasanya laris saat perkuliahan berlangsung. Misalnya, kafe yang biasanya ramai dikunjungi mahasiswa, kini terlihat sepi karena mereka lebih memilih untuk menikmati makanan di kost atau tempat wisata yang lebih jauh dari kampus. Berbanding terbalik dengan para mahasiswa yang senang karena dapat bekumpul bersama keluarga tercinta, para pedagang yang biasa mencari nafkah disekitar kampus malah tidak merasakan kesenangan itu karena dengan pulangnya para mahasiswa dagangan yang mereka dagangkan menjadi sepi pembeli. Salah satu target pasar mereka yaitu para mahasiswa bukan hanya para penjual makanan yang merasakan dampak tersebut, adapula tempat print, karena di daerah kampus sendiri jelas banyak sekali penyedia jasa layanan print yang menjadikan mahasiswa sebagai target pasar mereka, selain itu ada juga penyedia layanan loundry yang semakin sepi akbat liburan semester.
Banyaknya mahasiswa yang memilih untuk menggunakan jasa
loundry karena jika dilihat memang lebih praktis dan simpel. Kebanyakan jasa
loundry disekitar kampus juga menyediakan jasa layanan antar jemput, sehingga
lebih memudahkan lagi para mahasiswa yang disibukkan
dengan banyaknya deadline tugas sehingga tidak memiliki waktu untuk
mengantarnya, para penyedia jasa layanan tersebut juga dapat dihubungi untuk
menjemput pakaian kotor kita dan jika sudah selesai akan diantar kembali. Akan
tetapi pada saat liburan semester para penyedia jasa loundry ini mengalami
penurunan omset akbat tidak ada atau berkurangnya para mahasiswa yang
menggunakan jasa loundrynya, ada juga kedai kopi yang target
utamanya yaitu mahasiswa, karena banyaknya mahasiswa yang lebih memilih
mengerjakan tugas ataupun melakukan rapat di kedai kopi sekitar kampus, jadi
apabila adanya liburan semester yang berkepanjangan ini sangat mempengaruhi omset mereka, karena berkurangnya
pelanggan yang berkunjung. Beban juga dirasakan oleh para pengusaha dan
karyawan yang bekerja di sektor-sektor yang terdampak langsung oleh
berkurangnya domisili mahasiswa.
Beberapa pengusaha terpaksa harus menurunkan jam operasional
atau bahkan mengurangi jumlah staf sementara untuk menekan biaya operasional
mereka. Bagi karyawan yang tidak memiliki jam kerja fleksibel, ini bisa berarti
pengurangan jam kerja atau pemotongan gaji, yang tentunya mempengaruhi
kesejahteraan mereka. Untuk usaha-usaha kecil seperti warung makan atau toko
kelontong, mereka mungkin harus mengandalkan pelanggan dari luar kampus atau
masyarakat sekitar. Namun, jumlah pelanggan tersebut tidak dapat menutupi
kerugian yang mereka alami akibat sepinya kunjungan mahasiswa. Ini menjadi
tantangan besar bagi para pelaku usaha yang bergantung pada stabilitas
permintaan yang tercipta dari aktivitas mahasiswa.
Libur kuliah semester mempunyai
dampak yang signifikan terhadap penurunan perekonomian di sekitar kampus,
terutama bagi sektor kuliner, percetakan, dan jasa laundry yang sangat
bergantung pada aktivitas mahasiswa. Penurunan omset dapat mencapai angka yang
signifikan, memaksa beberapa pedagang untuk menutup usaha untuk sementara
waktu. Meskipun terdapat berbagai inisiatif pemerintah terkait literasi
keuangan, inklusi digital, dan perlindungan konsumen yang secara tidak langsung
dapat membantu pedagang, namun belum ditemukan adanya program spesifik yang ditujukan
untuk mendukung pedagang selama masa libur semester. Oleh karena itu, pedagang
perlu mencari alternatif strategi untuk mengatasi penurunan pendapatan selama
periode tersebut, dan pemerintah mungkin perlu mempertimbangkan program
dukungan yang lebih spesifik untuk mengurangi beban ekonomi mereka saat kampus tidak ada aktifitas..